Toleransi : Budaya Kebersamaan

Manusia pada hakikatnya homo socius (mahkluk sosial) yang hidup berdampingan dan saling membutuhkan. Dalam praktek kehidupannya manusia menggunakan akal dan hati nurani sebagai fundasi dasar dalam bertindak dan bertutur kata. Sebagai makhluk yang berakal manusia mampu berpikir untuk mengarahkan tujuan hidupnya di masa yang akan datang dan tentunya bagaimana menjalin relasi dengan sesama.

Berbicara soal kehidupan bersama, realitanya masih terdapat begitu banyak individu yang belum mengenal arti hidup bersama di tengah lingkungannya. Sikap egoisme masih menjadi budaya yang berakar dalam diri. John lucke seorang ahli psikologi pernah berkata, bahwa sejak manusia itu lahir, dia ibarat kertas kosong yang belum diberi warna. Lalu warna itu yang akan membentuk kehidupannya di masa yang akan datang. Teori ini hemat saya sangat kontroversial. Mengingat realita kehidupan masyarakat indonesia yang sering dipenuhi oleh konflik saya menganggap itu sebagai sebuah tindakan yang disebabkan oleh minimnya kesadaran akan indahnya kebersamaan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Founding father berjuang dalam memerdekaan indonesia atas dasar persatuan dengan tujuan mempersatukan masyarakat indonesia yang beragam suku dan budaya. Bahwasannya, pengalaman masa lalu tersebut tidak menjadi cerminan bagi masyarakat untuk tetap menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah soal suku, ras dan agama masih dipraktekan di indonesia. Rasisme mulai bermunculan dengan merendahkan masyarakat lain. Radikalisme agama mulai bermunculan seolah-olah Tuhan yang mahakuasa butuh dibela oleh manusia yang derajatnya jauh di bawah kuasa Ilahi.

Hemat saya konflik seperti ini lahir dari pemikiran yang radikal akan kepentingan dan kekuasaan. Kesejahteraan bukan lagi menjadi harapan dan cita-cita bersama.

Berdasarkan hasil teori john lucke saya berpendapat bahwa dalam perjalanannya manusia akan berhadapan dengan berbagai macam lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap behaviour seseorang. Karena tingkah laku berdasar atas konsekuensi yang dijalaninya.

Seperti contoh seseorang yang lahir di tengah arus paham radikal yang berlebihan maka perilakunya turut berubah. Begitupun sebaliknya, jika seseorang lahir di tengah lingkungan yang menjunjung tinggi nilai toleransi maka prakteknya pun turut ikut serta.

Konsekuensi seperti ini yang saya maksudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berkaca pada kasus-kasus di indonesia, saya sebagai generasi muda yang peduli akan persatuan mengajak segenap masyarakat indonesia untuk tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dengan beberapa tawaran yang hemat saya dapat membantu kita untuk keluar dari zona lama,
1. Mengasah pengetahuan dengan terus belajar,
2. Mengikuti kegiatan keagamaan dan paham-paham yang membangun,
3. Mengikuti seminar soal kebangsaan,
4. Menjalin persaudaraan akan pentingnya hidup bersama

Tulisan ini berdasarkan keresahan pribadi karena melihat problem yang seringkali dihadapi oleh masyarakat indonesia.



Comments

Popular posts from this blog

EDUARDUS : "Pemilu 2024 Sebagai Momentum Keberpihakan Terhadap Kaum Tertindas"