PENDIDIKAN DI TENGAH PANDEMI COVIDE-19
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia (Humanisasi). Proses tersebut membuat manusia keluar dari zona ketidaktahuannya. manusia sungguh sadar bahwa peran pendidikan dalam kehidupannya sangat penting sehingga manusia mengorbankan ekonomi, status, dan peran untuk mewujudkan cita-citanya. Sejak kecil manusia telah ditanamkan pengetahuan yang kontennya bagaimana hidup bermasyarakat yang baik, bahkan bagaimana kita menjalin hubungan dengan Tuhan. Pada dasarnya Pendidikan merupakan kegiatan humanisasi. Kegiatan di mana memanusiakan manusia agar manusia dapat dibedakan dari binatang. Mirisnya, pendidikan belum secara optimal diaplikasikan oleh peserta didik dalam lingkungan masyarakat. Hal ini tercermin dari polemic yang seringkali dihadapi oleh Negara ini antara lain korupsi, kolusi dan nepotisme. Dewasa ini setiap hari manusia dibombardir oleh eksistensi tekhnologi informasi dan komunikasi. Eksistensi tersebut seolah-olah menjadi agama yang dari hari kehari  terdapat Dewa yang harus disembah.  Kita tak seharusnya menyalahkan pendidikan yang mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik, yang kita salahkan adalah system dan pola pendidikan yang diberikan.
Dalam pendidikan,ada berbagai macam ilmu pengetahuan yang kita pelajari. Misalnya ke-Tuhanan, dan kemanusiaan dan pengetahuan alam. Dalam penerapannya peserta didik diajarkan tentang tindakan moral sesuai yang diajarkan oleh sang pencipta, bagaiamana berperilaku di tengah masyarakat, dan mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan alam semesta. Lalu banyak orang yang bertanya, pendidikan apa yang pantas diberikan kepada manusia? Hemat saya pendidikan yang pantas diberikan itu adalah pendidikan holistic. Menurut Jean Rossou[1] pendidikan holistic merupakan bagian dari suatu filsafat pendidikan yang bersumber dari pola pikir bahwa seorang individu pada dasarnya menemukan identitas, tujuan dan makna dalam kehidupan melalui hubungannya dalam masyarakat. Hemat saya pendidikan ini sangat pantas dituangkan kepada peserta didik. Di mana pendidikan ini akan diajarkan tentang bagaimana seseorang bertindak, bertutur kata dan berpikir sehingga ia mampu menemukan jati dirinya di kemudian hari. Namun, berkaca pada relaita yang marak terjadi, masih banyak orang yang salah bertindak dan salah menggunakan pola pikir mereka dalam kehidupan sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia masih memiliki jutaan anak yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak. UU pasal 34 ayat 1 secara jelas berbunyi “Bahwa anak-anak terlantar dan fakir miskin dipelihara oleh Negara. Akan tetapi hal tersebut tidak sesuai harapan masyarakat. Maraknya kasus korupsi, kolusi dan nepotisme dari berbagai sector menjadi penghambat majunya dunia pendidikan indonesia.
Pada penghujung tahun 2019 dunia dilanda oleh wabah virus corona yang kemudian WHO menetapkan itu sebagai pandemic global. Situasi ini membuat manusia terkocar-kacir dan tak tentu arah. Melihat realitas ini, Indonesia mengambil langkah preventif guna untuk mengurangi penyebaran virus corona tersebut, seperti bekerja dari rumah (work from home), pembatasan jarak (Social distanceing) dan pembatasan warga Negara asing. Beberapa tindakan yang diterapkan oleh pemerintah tersebut berdampak pada dunia pendidikan. Hal ini menuntut pihak sekolah untuk menerapkan system secara daring online. Tentunya hal ini hemat saya tidak menjamin akan factor kognitif dan karakter pada peserta didik. Adapun itu keterbatasan alat-alat elektronik dan jaringan internet menjadi penghambat bagi peserta didik yang memiliki keterbatasan secara ekonomi.
Beberapa langkah ini menuntut peserta didik untuk mengimplementasikan aturan yang diterapkan. Namun di sisi lain hal ini menimbulkan pemberontakan dalam diri peserta didik. Di mana system pendidikan secara tatap muka lebih efisien dari system daring. Secara psikolgi freud menjelaskan bahwa tingkah laku sangat berpengaruh pada diri individu tergantung seberapa besar stimulus yang diberikan. Pada taraf ini saya berpikir bahwa apa yang disampaikan oleh freud sangat berkaitan erat dan berpengruh terhadap tingkat kognitif seseorang. Karena proses pendidikan secara tatap muka akan secara lansung dirasakan oleh peserta didik dengan berbagai stimulus yang diberikan oleh guru.
BAB II
ISI
2.1         Pembahasan
Pandemik covid-19 sangat meresahkan kehidupan masyarakat. Kerasahan ini terjadi di seluruh dunia dan bahkan segala aktivitas yang seharusnya dilakukan secara tatap muka terpaksa harus dilakukan dan  digantikan system digital demi mengurangi  penyebaran virus. Setiap instansi ,perusahan ataupum lembaga- lembaga yang ada tentu ini menjadi tantangan yang sangat sulit. Persoalan ini pun tentu bukan hal yang mudah.
Dalam dunia pendidikan kini menjadi tantangan baru. Hal ini berkaitan dengan tiga aspek penilaian terhadap setiap peserta didik di antaranya adalah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pertama penilaian kognitif, yaitu suatu proses penilain cara berfikir atau proses menangkap, menyimpan, mengelola, sampai menggunakan kembali informasi yang diterima. Dalam proses penerimaannya melalui enam jenjang dia antaranya, pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian atau evaluasi.  Kedua, penilaian afektif, yaitu suatu proses penilaian terhadap sejauh mana peserta didik menerapkan sikap saling membantu dan saling mencintai terhadap suatu pekerjaan dan terhadap sesame. Ketiga, penilaian psikomotorik yaitu suatu proses penilaian tentang bagaiamana perkembangan keteramapilan (Skill) dari peserta didik yang diterima dari guru. Pada pengetahuan psikomotorik ini, merupakan sebuah hasil dari pendidikan kognitif dan afektif.
Melihat penilaian terhadap proses pendidikan di atas, hemat saya apa yang menjadi kebijakan dari pemerintah tentang sekolah berbasis daring tidak menjadi penunjang keterampilan dari peserta didik. Adapun itu dalam situasi yang dihadapi, terdapat begitu banyak peserta didik yang mengeluh akan keterbatasan alat telekomunikasi dan informasi yang memadai. Realitas ini menuntut pihak sekolah untuk mengubah strategi yang lebih efektif terhadap proses perkembangan anak di tengah wabah covide-19 ini. Dalam hal ini saya sebagai penulis menawarkan beberapa langkah konkrit sebagai salah satu cara penunjang perkembangan peserta didik.
a.       Memberikan tugas kepada peserta didik untuk menganalisis kasus yang sedang dihadapi oleh masyarakat global. Melalui tugas ini, peserta didik akan mencari tahu informasi dari berbagi media sehingga peserta didik memiliki daya kritis dan selektif dalam menerima setiap informasi yang beredar.
b.      Memberikan tugas kepada peserta didik seperti membaca berbagai buku, baik novel maupun yang bersifat ilmiah. Bahwasanya, di tengah kemajuan tekhnologi yang semakin pesat, tingkat membaca dalam diri individu sangat minim.
c.       Memberikan tugas yang bersifat kretif dan inovatif terhadap individu yangbersifat di rumah saja, tanpa harus membutuhkan barang-barang di rumah. Dalam hal ini pendidikan psikomotoric bisa dinilai.
d.      Memberikan tugas refleksi tentang perjalanan hidup baik bersama keluarga maupun masyarakat umum. Melalui tugas ini, individu bisa mengenal dan menelaah lebih jauh tentang apa yang telah dia berikan terhadap manusia sesamanya.
Dari beberapa tugas-tugas di atas hemat saya bersifat konstruktif terhadap diri individu. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, guru akan menilai perkembangan peserta didik ketika peserta didik diberikan tanggung jawab yang besar. Pendidikan-pendikan seperti inilah yang sangat ideal. Karena ketika peserta didik diberikan tugas hanya sebatas memenuhi aturan daring, maka tidak akan memenuhi tuntutan kognitif, afektif dan psikomotoric. 








BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Berbicara soal pendidikan di indonesia, bukanlah suatu hal yang baru. Pola pendidikan di indonesia sejak dulu hemat saya tidak bisa menjawab tuntutan peserta didik. Kehadiran Nadiem Makarim sebagai mentri pendidikan di Indonesia harapannya bisa menjawab tuntutan peserta didik. Di tengah wabahnya covide-19 menjadi ajang bagi setiap lembaga pendidikan untuk menerapkan sebuah proses belajar yang baru bagi peserta didik. Melihat realitas di tengah wabahnya virus corona, apa yang diberikan oleh tenaga pendidik tidak dapat menunjang tuntutan peserta didik, dan hanya sebatas memenuhi aturan lembaga dan kurikulu. Kembali melihat tujuan dari pendidikan sebenarnya menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi setiap lembaga pensdidikan. Pada hakekatnya tujuan dari pendidkan adalah memanusiakan manusia (humanisasi).
Berdasarkan tuntutan penilaian terhadap peserta didik, peserta didik membutuhkan tiga aspek penilaian terhadap setiap peserta didik di antaranya adalah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pertama penilaian kognitif, yaitu suatu proses penilain cara berfikir atau proses menangkap, menyimpan, mengelola, sampai menggunakan kembali informasi yang diterima. Dalam proses penerimaannya melalui enam jenjang dia antaranya, pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian atau evaluasi.  Kedua, penilaian afektif, yaitu suatu proses penilaian terhadap sejauh mana peserta didik menerapkan sikap saling membantu dan saling mencintai terhadap suatu pekerjaan dan terhadap sesame. Ketiga, penilaian psikomotorik yaitu suatu proses penilaian tentang bagaiamana perkembangan keteramapilan (Skill) dari peserta didik yang diterima dari guru. Pada pengetahuan psikomotorik ini, merupakan sebuah hasil dari pendidikan kognitif dan afektif.
3.2 Saran
Berdasarkan system yang diberikan pada dunia pendidikan di tengah covide-19, seperti daring online dan pemberian tugas untuk memenuhi standart hemat saya tidak menunjang ketiga tingkat penilaian terhadap peserta didik. Oleh karena itu pihak pendidikan harus mengutamakan ketiga aspek tersebut, demi terciptanya pribadi yang karakter dan unggul.

Comments

  1. Mntppp.. semoga segala aspirasi yg disampaikan,dapt d ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah..terutama bgmna pilar pendidikan yaitu learning to know, learning to do, learning to be,and learning to live together..sy pikir pilar itu mnjdi kekacauan dalam situasi kegentingan covid 19.. mungkin learning to know, kita masih bisa eksekusi hal namun tidak menjamin kesuksesan mnrt sy.. hidup presiden 2025

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

EDUARDUS : "Pemilu 2024 Sebagai Momentum Keberpihakan Terhadap Kaum Tertindas"